SALATIGA, 23 Oketober 2024 — Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dan menyongsong persiapan akreditasi Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Asisi Semarang melaksanakan kegiatan benchmarking ke Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Kunjungan strategis ini bertujuan untuk menggali wawasan dan praktik baik dari UIN Salatiga yang telah lebih dulu sukses meraih akreditasi “Unggul”.
Kehadiran delegasi STPKat disambut langsung oleh jajaran pimpinan dan tim PPG UIN Salatiga. Dalam sambutannya, Sekretaris Jurusan PPG UIN Salatiga menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Pihaknya menjelaskan bahwa keberhasilan prodi PPG UIN Salatiga meraih predikat Unggul merupakan buah dari berbagai strategi dan kerja keras seluruh tim. Prestasi ini juga telah mendapat apresiasi langsung dari Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan menjadikan UIN Salatiga sebagai rujukan belajar bagi banyak LPTK lainnya.
Menanggapi sambutan hangat tersebut, Ketua STPKat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya. “Kita bersyukur bisa berkumpul di tempat ini. Kami ingin banyak belajar ke UIN Salatiga, khususnya terkait pengisian borang akreditasi PPG agar persiapan kami bisa lebih matang dan terarah,” tuturnya.
Hal senada disampaikan oleh Romo Sugi yang tergabung dalam delegasi STPKat. Ia menekankan bahwa sebagai salah satu dari dua LPTK Katolik yang ada, STPKat Semarang akan segera menghadapi proses akreditasi prodi PPG dalam waktu dekat. Oleh karena itu, pendampingan dari institusi yang telah teruji sangatlah dibutuhkan guna mengetahui langkah-langkah konkret yang harus dipersiapkan.
Berbagi Strategi dan Teknis Akreditasi
Dalam sesi pemaparan pengalaman, Prof. Rasimin menceritakan bahwa prodi PPG di UIN Salatiga telah dirintis sejak tahun 2018. Menurutnya, langkah vital dalam persiapan akreditasi meliputi pembentukan tim khusus, mengundang asesor LAMDIK (Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan) untuk pendalaman, serta melakukan review borang secara berkala.
Sekretaris Jurusan PPG UIN Salatiga turut membagikan delapan langkah taktis yang mereka terapkan, di antaranya: menghadirkan narasumber ahli untuk pembekalan, mengumpulkan tim di tempat khusus (karantina) untuk fokus mengerjakan borang, mendatangkan dua asesor untuk review Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Dokumen Kinerja Program Studi (DKPS), serta secara aktif melibatkan alumni, guru pamong, dan sekolah mitra. “Membuat kekompakan tim, memberikan motivasi, dan saling menguatkan adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.
Sementara itu, pendalaman teknis penyusunan dokumen akreditasi dipaparkan secara komprehensif oleh Bapak Imam Subqi. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang wajib diperhatikan oleh pimpinan LPTK dan tim penyusun borang:
- Fokus pada Bukti dan Ketepatan LED: Penyusunan borang harus selalu merujuk pada kesesuaian antara instrumen dan bukti konkret. Dokumen LED harus disusun sesuai template dan tidak bertele-tele dengan ketebalan maksimal 200 halaman. Komposisi penilaian menitikberatkan pada Kriteria (85%), Profil (10%), dan Analisis (5%). Oleh karena itu, Ketua dan Kaprodi wajib menguasai isi LED secara utuh.
- Manajemen Kurikulum dan Penjaminan Mutu (LPM): Kurikulum harus dipahami dengan baik oleh dosen maupun mahasiswa, dibuktikan melalui ketersediaan dokumen kelengkapan seperti Capaian Pembelajaran (CP), RPS, modul, hingga bukti pelaksanaan peer teaching dan PPL. Setiap standar mutu juga harus dilengkapi dengan SOP yang jelas serta rutin dilakukan audit internal oleh LPM.
- Pengelolaan SDM dan Keuangan: LPTK perlu memperhatikan legalitas dosen homebase dan rasio kecukupan pengajar. Dari segi pendanaan, LPTK harus mampu menyinergikan pembiayaan secara proporsional, di mana dana lembaga perlu dialokasikan untuk memfasilitasi penelitian dan pengabdian masyarakat (yang dijurnalkan) bagi para dosen PPG.
- Visi Misi dan Perluasan Kerja Sama: LPTK didorong untuk memiliki visi misi yang khas, serta proaktif merajut kerja sama dengan pihak luar, seperti pemerintah daerah (APBD), Bimas, hingga instansi luar negeri di bidang profesi atau pendidikan. Di samping itu, sistem pemantauan pembelajaran seperti absensi dan evaluasi durasi pengajaran harus berjalan terstruktur.
Melalui kegiatan benchmarking ini, LPTK STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang diharapkan dapat membawa pulang bekal berharga untuk menyusun dokumen akreditasi secara maksimal. Kolaborasi dan transfer pengetahuan antar-LPTK ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam meningkatkan mutu lulusan Pendidikan Profesi Guru di Indonesia.
Kontak Media :
Humas LPM STPKat Santo Fransiskus Asisi Semarang
Jl. Ronggowarsito No. 8, Semarang
Email: stpkat08@gmail.com | Telepon: 089673366980


